Jumat, 28 Juli 2017

Arist Merdeka Sirait Temui Pelaku Sodomi Delapan Siswa SMP di Siantar Simalungun

- Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) yang dipimpin Ariat Merdeka Sirait melakukan kunjungan ke Mapolres Pematangsiantar, Kamis (27/7/2017).

Arist dan rombongan menyempatkan berbincang langsung dengan pelaku sodomi Afrizal yang tampak mengenakan rompi oranye khas tahanan. Komnas PA menemui Afrizal untuk mengetahui motif dan pengakuannya telah berbuat tidak senonoh terhadap delapan korban.

"Tadi kami ketemu dengan pelaku (Afrizal) berbincang tentang motifnya melakukan tindak pidana seksual. Di hadapan Pak Kasat dengan jajajaran Afrizal mengakui korbannya sementara ini ada delapan orang dan dilakukan setiap bulan," kata Arist di Mapolres Siantar.

"Motifnya dia mengakui mempunyai semacam ilmu pengetahuan mengobati periksa kesehatan anal. Dan pengakuanya dia ada diangkat di duta narkoba periksa anal. Namun saya gak tahu apakah dia memang dipakai mengobati remaja-remaja. Dia pakai itu (ilmu pengetahuan tentang anal) melakukan rangsangan-ramgsangan. Dia melakukan itu secara salah. Caranya mengoda dan bujuk rayu tanpa ancaman," beber Arist.

Kata Arist, korban sepakat proses hukum diserahkan ke penyidik. Tugas Komnas PA akan berkoordinasi dengan pihak sekolah agar para orang tua memeriksakan psikologi anak.

"Psikoterapi akan kita lakukan kepada anak yang jadi korban. Saya melihat kasus melibatkan anak di wilayah hukum Siantar Simalungun cukup tinggi. Bukan hanya sodomi, tapi Gangrape (kejahatan seks terhadap anak secara bergerombol) juga mengancam anak di Siantar Simalungun.

Kita koordinasi bantu pihak penyidik kepolisian untuk menentukan penyidikan sebagai alat bukti yang fibutuhkan. Saya bwrharap ini satu langkah agar bersama sama menyelamatkan anak.

Diketahui delapan korban (siswa pria) dari Afrizal di antaranya tujuh murid SMP yakni HNR, AZA, DAM, MAR, LMD, HA, dan MR dan T seorang pelajar di bangku SMA Negeri di Siantar.

Kanit PPA Aiptu Malon Siagian membeberkan kuat dugaan korban lain di SMP Negeri tempat Afrizal melatih pramuka. Selain itu ada tiga korban lain berstatus duduk di bangku SMA Negeri Siantar.

"SK melatih pelaku di SMP negeri itu, dugaan ada korban siswa SMP lainnya. Sudah setahun belakangan melatih. Tapi ada korban lain sudah duduk di bangku SMA Negeri Siantar, dugaan saya tiga orang. Kepada orangtua anak atau warga lainnya yang merasa anaknya menjadi korban sodomi diimbau melapor ke Mapolres Siantar. Nantinya akan dilindungi dan demi melalukan pengembangan," katanya.

Kanit PPA, Aiptu Malon menceritakan, adapun modus yang dilakukan pelaku, dengan cara mengajak korban ke rumahnya dengan modus kusuk lantaran letih latihan pramuka. Selanjutnya pelaku merayu dengan bujuk rayu, membuka baju korban dan melakukan tindakan menyimpang yang tak senonoh.

"Pelaku melakukan tindakan asusila itu dengan modus mengajak para korban ke rumahnya. Sampai di rumah, baju korbannya dibuka. Caranya berbeda-beda, terkadang jari dan alat kelamin dimasukkan ke lubang pencernaan korban. Ada juga disuruh memegang kelamin pelaku,” beber Malon.

Aiptu Malon Siagian membeberkan, bahwa Aprizal sudah ditetapkan sebagai tersangka dan akan dijerat pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Akibat perbuatannya, sebagaimana dimaksud dalam pasal 82 Undang-Undang tersebut, bila terbukti mencabuli, Afrizal terancam dipidana 12 tahun penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun, serta denda yang paling banyak sebesar Rp 5 miliar.

 

 

 

 

 

 

 

(st5/TRIBUNNEWS.COM)
Next article Next Post
Previous article Previous Post