Senin, 31 Juli 2017

Berikut Ini Tiga Sikap Novel soal Tim Investigasi Gabungan

sinartapanuli.com

Jakarta- Meski berada di Singapura, penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan tetap mengikuti perkembangan kasusnya yang ditangani Polri.

Termasuk baru-baru ini, Kapolri merilis sketsa wajah terduga pelaku penyerangan, serta ajakan Kapolri pada KPK untuk bergabung dalam tim investigasi gabungan.

Menyikapi hal ini, Novel membuat pernyataan yang kemudian disampaikan dan didiskusikan dengan Dahnil Anzar Simanjuntak, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.

"Pagi ini pukul 7.15 WIB, saya (Dahnil) berdiskusi dengan Novel Baswedan terkait pernyataan Kapolri setelah bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Ada tiga poin penting yang menjadi perhatian dari diskusi tersebut, dan menurut Novel perlu saya sampaikan kepada publik," ucap Dahnil dalam pernyataannya.

Pertama, terkait dengan keinginan Kapolri untuk melibatkan KPK menjadi satu tim bersama, dalam penyidikan pengungkapan Kasus Penyerangan terhadap dirinya, Novel menyampaikan:

"Menduga Kapolri memiliki bukti dugaan ada suap atau korupsi yang melibatkan pihak oknum kepolisian yang terkait dengan kasus penyerangan terhadap dirinya, sehingga harus melibatkan KPK dalam satu tim untuk membongkar kasus penyerangan terhadap dirinya."

Karena bila tidak ada kasus korupsi, maka permintaan Kapolri membentuk tim bersama dengan KPK, keliru, pasalnya bukan tupoksi KPK menangani kasus terorisme atau kekerasan seperti yang Novel Baswedan alami."

"Kedua, terkait dengan penolakan Kapolri terhadap pembentukan, TGPF Independen yang diusulkan kepada Presiden, menurut Novel sesuai diskusi saya dengan dia pagi ini, seharusnya dengan adanya tim independen yang kredibel, Kapolri dibantu untuk menghadirkan kepercayaan publik, Karena bisa ditemukenali proses "ganjil" dalam penanganan kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan ini," beber Dahnil.

Termasuk objektifitas dan kualitas pengusutan akan semakin baik dan Kapolri terbantu untuk mempercepat pengungkapan kasus ini sesegera mungkin, sehingga Kapolri bisa melakukan evaluasi terhadap kinerja aparatur kepolisian dibawahnya.

"Oleh sebab itu, agak aneh apabila penolakan keras dilakukan oleh Kapolri, padahal TGPF sejatinya membantu kualitas kerja beliau dalam penanganan kasus Novel Baswedan," tegas Dahnil.

Ketiga, Novel Baswedan berkeyakinan, kasus penyerangan terhadap dirinya tidak akan diungkap dan dituntaskan kepolisian, bila hanya ditangani oleh pihak kepolisian sendiri tanpa TGPF yang independen dan Kredibel.

"Upaya menggandeng pihak lain dalam hal ini KPK diduga oleh Novel sebagai upaya mencari pembenaran seolah-olah polisi serius," katanya.

 

 

(ST7/tribunnews.com)
Next article Next Post
Previous article Previous Post