Kamis, 27 Juli 2017

Inilah Penyebab Ikan "Pora-Pora" Punah dari Danau Toba

 

Doloksanggul,Humbahas,sinartapanuli.com

 

- Ikan bilih atau yang santer disebut-sebut oleh warga di seputaran Danau Toba sebagai ikan "Pora-Pora" semenjak tahun 2016 sudah punah dari perairan Danau Toba.Punahnya ikan ini disebabkan oleh cara nelayan dalam menangkap ikan ini terbilang liar atau tak sesuai standar yang diharapkan oleh pihak Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas).

Pemerintah pusat di tahun 2004 silam melalui Presiden Megawati Soekarnoputri, secara langsung menaburkan bibit ikan bilih pada perairan Danau Toba.Benih ikan ini diintroduksi dari Danau Singkarak, Sumatera Barat kala itu.Karena ikan bilih merupakan ikan endemik Danau Singkarak.

Setelah 3 tahun, ikan bilih ini sudah bisa dipanen pada tahun 2008.Panennya terbilang "raya",pasalnya saat itu ikan bilih bisa mencapai 10 ton jumlah tangkapan pada setiap harinya hanya dari kecamatan Baktiraja saja.Belum lagi dari daerah-daerah lainnya.

Perkembangan ataupun pertumbuhan pesat dari ikan bilih ini boleh dibilang karena disebabkan ikan endemik ini sangat cocok habitatnya di Danau Toba.Kemungkinannya adalah karena kondisi atau pun bentuk geografis Danau Singkarak nyaris sama dengan Danau Toba.Lantas Perairan Danau Toba pun menjadi nice yang spesifik bagi kehidupan jenis ikan ini.

Jumlah tangkapan besar akhirnya tak bertahan lama.Di Tahun 2013 dan 2014 hasil tangkapan menurun drastis.Tahun 2015,ikan bilih pun menjadi sangat jarang dijumpai.Dan puncaknya di tahun 2016,ikan ini punah dari perairan Danau Toba.

Hal ini tentu saja berakibat miris karena membawa dampak besar terhadap wajah perekonomian warga di sekitaran Danau Toba.Tak hanya itu, perairan Danau Toba pun menjadi semakin tercemar,karena ikan bilih semasa hidupnya di kawasan ini diketahui sebagai ikan pemakan detritus (sampah organik). Akibatnya, semenjak kepunahan ikan ini,detritus pun mulai mencemari perairan Danau Toba.

Penangkapan ikan bilih yang berlebihan oleh masyarakat menjadi sumber masalah ini.Pemakaian jaring yang ukurannya (mess size) lebih kecil dari 1 inchi saat menangkap ikan ini mengakibatkan ikan-ikan kecil pun ikut terjaring.Juga penangkapan di sungai yang seharusnya tidak diperbolehkan, mengingat ikan bilih melakukan perkawinan hanya di muara sungai.

Dinas Peternakan dan Perikanan Humbahas melalui Kepala Bidang Perikanan Rudi Simamora mengatakan, sebelum punahnya ikan bilih ini,pihaknya tak henti-hentinya mensosialisasikan cara yang benar dalam penangkapan ikan ini kepada masyarakat.

"Tapi apa boleh buat, masyarakat tak semua mematuhinya, penangkapan ikan ini masih tetap dilakukan dengan sembarang",ujarnya pada awak media ini, Jumat (27/07/17).

Selain itu,Rudi juga mengatakan kalau ikan bilih ini sangatlah cocok untuk kawasan perairan Danau Toba.Selain menjadi predator bagi sampah organik,ikan ini juga mampu mendongkrak perekonomian warga.

Dengan sosialisasi yang lebih mumpuni,kata Rudi, pihaknya berharap pemerintah propinsi Sumatera Utara akan kembali menaburi benih ikan bilih di Danau Toba.

"Danau Toba berada di kawasan dari 7 kabupaten di Sumatera Utara,jadi ga boleh melibatkan satu kabupaten saja.Harapan kita pihak pemprov akan andil dalam hal ini", imbuhnya lagi.

Diketahui sebelumnya,Balai Benih Ikan Tawar (BBAT) Indonesia memang sudah mengintroduksi spesies ikan yang memakan detritus dari Jambi ke perairan Danau Toba pada tahun 2017 ini,yakni ikan Nilam.Tetapi sangat disayangkan,ikan ini memiliki nilai ekonomi lebih rendah dibandingkan ikan pendahulunya,ikan bilih.

Warga yang mengetahui kebijakan BBAT ini mengaku kecewa.Andre Banjarnahor misalnya,dia sangat mengharapkan ikan bilihlah yang akan dibibitkan kembali di Danau ini.

"Kita sangat rindu ikan Pora-Pora ini.Semoga pihak Pemprov benar-benar memperhatikan hal ini.Ikan Pora-Pora pun sudah pernah menjadi bagian dari hidup warga Humbahas, khususnya Bakkara.Kami juga sebagai warga akan mengubah cara kami dalam menangkap ikan nantinya",ujar warga ini.

 

 

 

 

(Rachmat Tinton)
Next article Next Post
Previous article Previous Post