Jumat, 28 Juli 2017

Kapolsek Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang Bantah Personelnya Cuma Dihukum Pushup - Jemur, Begini Respon Kapolri

Mabes polri akan menyelidiki dugaan hukuman ringan berupa push up dan dijemur yang dijatuhkan kepada tiga personel Polsek Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut), minggu lalu atas kasus penggunaan narkoba.

"Nanti dicek, dicari tahu kebenarannya. Kalau ada yang melakukan pelanggaran nanti dilihat dulu level (tingkat) pelanggarannya," kata Kapolri Tito Karnavian usai prosesi pelantikan jajaran perwira tinggi polri, Rabu (26/7/2107).

Sesuai penjelasan Kapolri Tito, bahwa sanksi kepada anggota kepolisian yang positif mengonsumsi narkoba tidak cukup hanya berupa hukuman fisik push up dan dijemur.

"Jika ditemukan barang bukti narkoba pada diri ketiga anggota kepolisian itu, maka mereka harus diproses secara hukum. Kalau dia pemakai, pasti dia kita berikan kode etik. Kalau enggak ada barang bukti, maka dia direhab. Kalau ada barang buktinya, kita proses hukum," kata Tito.

Tito menegaskan, kepada seluruh anggota polri agar tidak memakai narkoba, apalagi membantu atau sebagai pengedar narkoba.

"Kalau dia ikut pengedar apalagi anggota Polri, berarti pengkhianat. Pengkhianat harus dipecat," ucap Tito.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian pun memastikan tidak akan melindungi anggotanya yang terlibat dalam kasus narkoba. Tito memerintahkan jajarannya untuk memberi tindakan represif jika ada anggota yang mengedarkan narkoba.

"Kalau dia anggota Polri ikut mengedar berarti pengkhianat. Pengkhianat harus dipecat bila perlu tembak mati," kata Tito.

Tito mencontohkan salah satu kasus narkoba yang melibatkan oknum anggota di Medan, satu tahun lalu. Saat itu, oknum anggota ikut melindungi pengiriman narkoba dari Aceh. Anggota itu akhirnya ditembak mati bersama dengan bandarnya.

"Ditembak pengedarnya meninggal, polisinya pun ditembak meninggal. Dan polisi yang menembak saya pasti beri penghargaan," kata dia.

 

Kapolsek Membantah
Kepada Tribun-Medan.com, Kapolsek Kutalimbaru AKP Martualesi Sitepu membantah berita yang beredar, yang menyebut menghukum tiga personelnya yang positif narkoba hanya dengan hukuman fisik push up dan dijemur.

"Tidak benar hukumannya cuma push up dan dijemur," kata AKP Martualesi, Kamis (27/7/2017).

Martualesi menjelaskan, dia memang meminta ketiga personel yang positif narkoba itu maju saat apel personel.

Tujuannya untuk mempermalukan mereka dan sebagai peringatan kepada personel lain agar tidak main-main dengan narkoba.

"Untuk mempermalukan mereka secara psikologis dan menjadi contoh, yang tak perlu dicontoh atas perbuatan buruk mereka kepada anggota yang lain di wilayah hukum Polsek Kutalimbaru," ungkapnya.

Martualesi menambahkan, tindakan push up dan dijemur yang diperintahkannya itu, bukan pengganti proses hukum. Perkara mereka tetap diproses lalu menjalani rehabilitasi setelah istri atau keluarga masing-masing dihadirkan.

"Jadi, proses hukum tetap kami lanjutkan untuk memperbaiki anggota yang terlibat narkoba," jelasnya.

Polsek Kutalimbaru dan Provos juga mengawasi ketat ketiga personel itu hingga beberapa bulan ke depan.

Martualesi menceritakan, ketiga personel itu diketahui positif narkoba setelah pemeriksaan urine serentak dan mendadak kepada semua prajurit pada Kamis, (20/7/2017) lalu.

"Tes urine saya lakukan ini sebagai bentuk pembinaan dan pengawasan ketat terhadap anggota yang terlibat narkoba dan mengultimatum yang lain agar menjauhi narkotika," ujarnya.

Ketiga personel itu disebutkan, baru 5-6 bulan memakai narkoba.

Kapolda Sumut Gerah
Kapolda Sumut, Irjend Paulus Waterpauw
Kapolda Sumut, Irjend Paulus Waterpauw (Tribun Medan / Dimaz)

Adanya anggota polri yang terlibat dalam narkoba membuat Kapolda Sumut, Irjend Paulus Waterpauw gerah.

Ia kemudian mengeluarkan maklumat untuk menambak mati anggota polri yang benar-benar terbukti sebagai bandar narkoba.

"Mereka yang terlibat itu tidak usah proses sana, proses ini. Sudah, enggak usah dipelihara. Tindak tegas saja. Kalau perlu hilangkan dari bumi ini," kata Paulus, Kamis (27/7/2017).

Ia mengatakan, penjara tak membuat jera para bandar narkoba. Maka dari itu, tindakan tegas perlu dilakukan bagi mereka yang berniat merusak generasi muda bangsa.

"Bandar-bandar itu yang mereka pikirkan hanya keuntungan dan uang. Mereka tidak pernah memikirkan dampak perbuatan mereka," kata Paulus.

Karena bandar narkoba itu tidak perduli dengan kondisi generasi muda, maka petugas yang bertindak juga tidak perlu memperdulikan para bandar.

Paulus meminta tembak mati saja para bandar besar itu.

"Saya juga ingatkan pada semua anggota jangan main-main masalah narkoba ini. Saya akan tindak mereka yang terbukti memiliki barang bukti," kata mantan Kapolda Papua ini.

Pecat 17 Personel
Sebagai pimpinan di Polda Sumut, Irjen Paulus Waterpauw memecat sedikitnya 17 personel yang terlibat dalam berbagai tindak pidana, salah satunya terlibat pidana narkoba.

Upacara pemecatan tidak dengan hormat (PTDH) ini digelar di Lapangan KS Tubun Polda Sumut yang dihadiri ratusan personel, Kamis (27/7/2017).

Empat perwakilan polisi yang dipecat, di antaranya Bripka Agussalam, Brigadir Saiful, Bripda Sofyan Fiqi l, dan seorang polisi wanita (Polwan) Briptu Desi Natalia Simatupang.

Masing-masing berempat dibariskan tak jauh dari tiang bendera dengan pengawalan ketat Provost.

Saat bahu dinasnya dicopot, keempat personel ini hanya menundukkan kepala dalam-dalam.

Mereka tak berani menoleh ke arah Kapolda, ketika seragam dinasnya diganti dengan kemeja batik.

"Dari empat orang yang menjalani PTDH ini, sebagian terlibat dalam masalah narkoba. Ini kali kedua saya melakukan PTDH selama menjabat sebagai Kapolda," kata Kapolda Paulus.

Paulus mengatakan, sebenarnya dirinya sangat sedih dengan PTDH ini. Namun, demi tegaknya hukum, maka tindakan ini harus dilakukan.

"Institusi kepolisian tidak boleh dikotori oleh tindakan apapun termasuk masalah narkoba. Banyak orang terpanggil, namun hanya sebagian saja yang terpilih (tetap menjadi polisi)," tegasnya.(*)
Next article Next Post
Previous article Previous Post