Senin, 14 Agustus 2017

“RURA” Juga Merindukan Sinyal. Kampungku Kapan Majumu?

Tornauli.Onanganjang Humbahas

“Rura hatutubu” seperti itulah aku menyebutnya, Desa Aek Godang, sebuah desa kecil di Kecamatan Onan Ganjang, Humbahas. Masih segar diingatanku beberapa tahun lalu tepatnya saat aku duduk di bangku SMP, aku harus bangun jam 5 pagi, memasak sarapan dan mandi (tetapi lebih sering cuci muka saja, karena hawa dingin yang menggigit sampai ketulang-tulang) dan berangkat kesekolah dengan berjalan kaki sejauh dua setengah kilo meter. Dua setengah kilo meter mungkin bukan jarak yang terlalu jauh, tetapi kondisi kampungku yang merupakan rura (baca: lembah) jarak itu kami lalui dengan jalanan yang menanjak dan langkah yang bisa dikatakan setengah berlari, dan hasilnya tentu saja kami sampai disekolah dengan aroma tubuh yang semerbak luar biasa.

Sebenarnya, jika dibandingkan dengan kawan-kawan ku dari “pelosok” desa lainnya, kisah kami bukan kisah yang paling menyedihkan, mengingat masih ada kawan-kawan kami dari desa Sitonong dan Batunagodang yang harus melalui 5 km tiap paginya. Mungkin aku terlalu berkecil hati karena sering membandingkan kisahku dengan kisah “dimas dan wita” yang sering ku baca di buku teks Bahasa Indonesia sewaktu SD.
Selain masalah jarak kesekolah hal yang sering membuatku “mengutuki” kampungku kala itu adalah masalah jaringan komunikasi. Ketika masa SMP masa mulai mengenal yang namanya facebook dan SMS iseng, aku sering diam-diam mengambil hp orang tuaku mengganti simcard nya dengan simcard yang kubeli seharga 5rb di Parbotihan lalu meletakkan hp di dekat cermin rumahku untuk “mengumpan” jaringan. Sampai saat ini saya belum tau pasti apakah meletakkan hp di depan cermin ada hubungannya dengan kekuatannya menangkap sinyal.

Terkadang untuk menghindari repetan mamakku aku akan pergi ke belakang gereja menahankan bau pesing kotoran kerbau dan perihnya sengatan agas sekedar bisa menemukan setitik sinyal untuk menuliskan status di facebook atau mengirimkan SMS iseng.
Dibelakang gereja,bukan hanya aku yang rela menahankan bau pesing dan siksaan agas hanya agar bisa mendapatkan setitik sinyal.

Disana banyak juga remaja dan anak muda lainnya, tidak jarang juga ada orang dewasa bahkan oppung-oppung yang datang kesana berharap menemukan setitik sinyal di nokianya, agar bisa mengkontek anaknya di tanah perantauan, mereka akan berbicara sangat keras seolah yang diajak ngobrol berjarak 10 meter dari hadapanya dan menghidupkan speaker nokianya, sehingga lawan bicara kita ditelepon, juga bisa mendengar lawan bicaranya diseberang sana.

Kala itu ada rasa kesal tak terkatakan ketika telepon iseng kita sama kawan harus terganggu oleh suara tawa bahagia oppung dan cucunya diseberang sana. Mungkin aku masih terlalu belia untuk bisa memahami kebahagiaan oppung itu.

Sembilan tahun hampir berlalu dari saat aku duduk di bangku SMP sampai sekarang masuk semester 7 perkuliahan, kuakui banyak peningkatan yang terjadi di kampungku.

Senter nokia sudah digantikan senter android, Alkitab kertas sudah banyak digantikan Alkitab elektronik. Ya, rata-rata mereka sudah memiliki android. Tetapi tetap saja, cerita 9 tahun lalu belum sejarah yang pantas diceritakan sebagai cerita lucu dari ketertinggalan zaman. Bahkan sepertinya kebutuhan akan jaringan komunikasi lebih memprihatinkan saat ini, saat semua sistem mulai beralih ke sistem online, saat manfaat Hp tidak sekedar menuliskan status di facebook atau sekedar mengirimi SMS iseng ngak penting. Ada rasa iba ketika melihat adek-adek yang mendaftar ke Sekolah Menengah Atas menunggu hasil pengumuman online dengan mencium pesingnya kotoran kerbau dan perihnya gigitan si agas di belakang gereja, atau mencuri kesempatan membuka website saat berada di “ladang” sinyal, bahkan merepotkan sanak family yang kebetulan tinggal di kota. Saya sendiri kasihan melihat diriku dan teman yang kebetulan mahasiswa saat harus turun ke “rura parbalan” untuk mengisi administrasi kampus dari kampung.

Aku jadi teringat akan kata-kata guru TIK-ku dulu “sistem informasi akan semakin maju, teknologi diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia”. Benar, sistem online diciptakan untuk mempermudah hidup manusia, tetapi jika tidak dibarengi dengan fasilitas yang memadai bukankah malah mempersulit sebagian orang? Atau bahkan memperdalam jurang dengan orang yang tinggal di “ladang” sinyal?, saat orang banyak mendewakan internet untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, kami masih merindukan jaringan komunikasi sekedar menelfon.

Saat mereka mebicarakan sinyal triji dan forji kami bahkan hanya menginginkan sinyal edge dua titik. Ada rasa takut ditinggal terlalu jauh, bahkan takut terlindas oleh sistem yang mulai mendewakan internet. Jujur, ada rasa penasaran ingin mengintip keasyikan di dunia maya dari “rura” ini.
Akh...seandainya sinyal dijual, layaknya pulsa, mungkin kami tidak se “ndeso” ini.

(Tulisan Ini Oleh: lumana sibagariang/ Warga Onan Ganjang Yang masih status mahasiswa saat ini)

 

Editor:Jhon Siregar
Next article Next Post
Previous article Previous Post