Selasa, 14 November 2017

Coffee Festival Toba 2017 Siap Pikat Penikmat Kopi Mancanegara

Sinartapanuli.com Jakarta - Danau Toba terus memaksimalkan potensinya setelah ditetapkan menjadi destinasi prioritas Kementerian Pariwisata (kemenpar). Salah satunya dengan menggelar Coffee Festival Toba 2017 di Sipinsur Park-Danau Toba yang akan dilaksanakan 2-3 Desember 2017 mendatang.

Wakil Gubernur Sumut, Nurhajizah, mengatakan ini adalah usaha Sumatera Utara (Sumut) untuk mengembangkan salah satu produk kopi yang dikenal terbaik di dunia.

Nurhajizah mengatakan, tujuan utama festival ini untuk memperkenalkan lebih dalam keragaman jenis kopi khas Indonesia terutama di kawasan Sumut. Karena itu dapat memperbanyak jumlah wisatawan Danau Toba melalui agrowisata kopi.

Faktanya banyak wisatawan mancanegara (wisman) menjadikan kopi Sumut sebagai oleh-oleh wajib, seperti kopi Lintong, kopi Mandheling, kopi Sidikalang, kopi Tarutung, kopi Silimakuta, kopi Dolog Sanggul, kopi Karo, dan kopi Samosir.
"Kopi-kopi yang dihasilkan Sumut ini mulai diakui dan dicari oleh para peracik kopi dunia. Nah, dalam rangka mempromosikan kopi Sumut itu, Coffee Festival Toba diyakini bisa mendatangkan wisatawan, termasuk dari mancanegara penikmat kopi," kata Nurhajizah.

Coffee Festival Toba 2017 ini, lanjut Nurhajizah, selain menjadi ajang silaturahim antarjejaring pelaku usaha kopi dan penikmat kopi, acara ini juga diharapkan dapat meningkatkan industri pariwisata Sumut.

Oleh karena itu, di Coffee Festival Toba 2017 nanti juga diisi dengan berbagai kegiatan edukatif, seperti workshop 'Racik Kopi & Field Trip', seminar, kompetisi, music, dan lain-lain.

"Coffee Festival Toba 2017 ini diharapkan mampu memberikan dampak besar terhadap produktivitas kopi di Indonesia, sekaligus mempercepat pergerakan ekonomi di wilayah Sumut. Kegiatan ini nanti juga dapat dijadikan momentum dibangunnya kerja sama kemitraan strategis antara petani kopi dan perusahaan industri pengolahan kopi. Bahkan bisa dengan eksportir kopi," papar Nurhajizah.

Sebagai informasi, Indonesia merupakan negara terbesar ketiga penghasil kopi di dunia setelah Brasil dan Vietnam, dengan produksi rata-rata 685 ribu ton per-tahun (8,9%) dari produksi kopi dunia.

Saat ini, yang paling terkenal di dunia adalah Luwak Kopi dari sebelas kopi Indonesia yang telah mendunia namanya. Sementara kopi Sumut yang sudah mendapat pengakuan mancanegara adalah kopi Sumatera Arabika dari Simalungun Utara, kopi Sidikalang, kopi Mandailing, kopi Tarutung, dan kopi Lintong.

"Penikmat kopi sudah mengetahui khasiat kopi bagi kesehatan, dan ini menjadi gaya hidup. Kopi Sumut kopi ini sangat diminati para penggemar kopi baik dalam negeri maupun luar negeri," ujar Nurhajizah.

Rencananya, Coffee Festival Toba 2017 akan diikuti 30 peserta. Selain dari sentra penghasil kopi Sumut, juga ada yang berasal dari daerah lain seperti Jakarta, Bekasi, Surabaya, Palembang, dan Makassar.

"Semoga melalui kegiatan ini, bisnis kopi menjadi bisnis yang besar. Sehingga menjadi ikon baru di Sumut baik dari sisi budaya, ekonomi dan pariwisatanya," pungkas Nurhajizah.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menambahkan, menikmati kopi itu bagian dari sensasi amenitas yang kuat di Sumut. Oleh karena itu, kopi harus selalu dipopulerkan sebagai minuman dari hasil bumi Indonesia yang khas.

"Dulu Bali, lalu Tana Toraja, sekarang Danau Toba selain wisatanya, kopinya juga sangat populer. Karena dulu wisatawan mau naik bus 10 jam datang ke Danau Toba walau hanya untuk menikmati kopinya. Sekarang orang tidak mau lagi, maunya langsung terbang sampai di lokasi," ujar Arief.

Karena itu, tegas mantan Dirut PT Telkom ini, aksesbilitas di Danau Toba harus benar-benar ditingkatkan. Tanpa adanya bandara internasional di Danau Toba, sulit bagi tiga besar destinasi wisata terprioritas di Indonesia ini untuk menjadi destinasi wisata dunia.

"Pemerintah kini sudah menjadikan Bandara Silangit menjadi bandara internasional. Sebab, 75 persen wisatawan dunia datang ke Indonesia melalui jalur udara, maka bandara Silangit ini menjadi penting sekali.

Bandara ini juga bisa memotong waktu tempuh yang panjang saat ini melalui jalur darat dari Medan ke Danau Toba yang bisa makan waktu tujuh jam," jelas Arief.
Next article Next Post
Previous article Previous Post