Rabu, 08 November 2017

SELAMAT!! Mengenal Lafran Pane, Putra Sipirok yang Dianugerahkan Jokowi Gelar Pahlawan Nasional

Sinartapanuli.com (Sipirok) - Pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Almarhum Prof Drs H Lafran Pane yang merupakan tokoh Yogyakarta mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah.
Upacara penganugerahan gelar pahlawan itu digelar di Istana Negara, Jakarta, Kamis (9/11/2015).
Penganugerahan gelar pahlawan itu tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 115 TK Tahun 2017 tanggal 6 November 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Untuk menghormati pemberian gelar ini, segenap kader HMI dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) DIY bersama majelis wilayah KAHMI DIY menggelar tasyakuran dan doa bersama, Selasa (7/11/17) kemarin.
Acara didahului dengan Jamaah Duhur di Masjid Kamu' Karangkajen Yogyakarta dilanjutkan dengan berjalan kaki ke makam Lafran Pane yang berada hanya beberapa meter dari masjid.
Di makam pendiri HMI ini yang lokasinya berdekatan dengan makam KH Ahmad Dahlan, peserta tasyakuran memanjatkan doa.
Seusai doa bersama, Siti Hadiroh Ahmad, rekan sejawat Lafran Pane berbagi cerita soal sosok Lafran Pane semasa hidupnya.
Siti yang juga alumni HMI ini masih ingat benar sosok Lafran Pane yang begitu sederhana selalu memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan Aisyiyah, organisasi yang pernah dipimpin Siti waktu itu.
"Saat istri beliau meninggal, saya ingat benar, semua yang dimiliki istrinya tersebut diserahkan ke kami (Aisyiyah), termasuk tabungan senilai Rp 1,1 juta. Tidak ada sedikitpun harta yang disisakan, semua diserahkan untuk Aisyiyah dan kami wujudkan dengan meja sidang di pimpinan pusat Aisyiyah," kenang Siti.
Lanjut Siti, sosok Lafran Pane juga ia ketahui sebagai pribadi yang apa adanya.
Semasa hidupnya, menurut Siti, Lafran Pane bila pergi ke manapun untuk menghadiri sebuah acara, lebih sering naik bis kota atau becak.



Dikutip dari Wikipedia, Lafran Pane adalah anak keenam keluarga Sutan Pangurabaan Pane dari istrinya yang pertama, Lafran adalah bungsu dari enam bersaudara, yaitu; Nyonya Tarib, Sanusi Pane, Armijn Pane, Nyonya Bahari Siregar, Nyonya Hanifiah, Lafran Pane, dan selain saudara kandung, ia juga memiliki dua orang saudara tiri dari perkawinan kedua ayahnya, yakni Nila Kusuma Pane dan Krisna Murti Pane.
Ayah Lafran Pane adalah seorang guru sekaligus seniman Batak Mandailing di Muara Sipongi, Mandailing Natal.
Keluarga Lafran Pane merupakan keluarga sastrawan dan seniman yang kebanyakan menulis novel, seperti kedua kakak kandungnya yaitu Sanusi Pane dan Armijn Pane yang juga merupakan sastrawan dan seniman.
Sutan Pangurabaan Pane termasuk salah seorang pendiri Muhammadiyah di Sipirok pada 1921. Sedangkan Kakek Lafran Pane adalah seorang ulama Syekh Badurrahman Pane, maka pendidikan keagamaannya didapat sebelum memasuki bangku sekolah.
Lafran Pane meyakini bahwa jika ajaran Islam dipraktikkan oleh rakyat Indonesia dalam segala lapangan hidup dengan sebaik-baiknya, Belanda tidak mungkin bisa menjajah dan mengekploitasi bangsa Indonesia dalam kurun waktu yang sangat lama.
Penjajahan, menurutnya, terjadi karena Belanda mengetahui lemahnya pendidikan Islam pada mayoritas masyarakat Indonesia. Islam mengajarkan bahwa semua manusia itu setara dan perbudakan amat ditentang.
Menurut Lafran Pane, tugas umat Islam adalah mengajak umat manusia kepada kebaikan dan juga menciptakan masyarakat adil makmur baik secara material dan spiritual.
Dengan adanya gagasan pembaharuan pemikiran keislaman, diharapkan kesenjangan dan kejumudan pengetahuan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam dapat dilakukan dan dilaksanakan sesuai dengan ajaran Islam.
Next article Next Post
Previous article Previous Post