Sabtu, 09 Desember 2017

Sudah Dapat Anggaran Rp 25 Miliar, Direktur Rumah Sakit Jiwa Sumut Mengeluh

Sinartapanuli.com MEDAN - Direktur Rumah Sakit Jiwa Prof Muhammad Ildrem Pemprov Sumut Chandra Syafei, tidak bisa berharap banyak.
Sebab, anggaran satu-satunya rumah sakit pemerintah yang konsentrasi menangani pasien sakit jiwa itu terhitung paling sedikit di antara instansi di bawah naungan Pemprov Sumut lainnya.
Kondisi ini, kata dia, sudah dianggap normal karena berlangsung tiap tahun anggaran.
"Itu lah kami. Memang tiap tahun kami paling sedikit," kata Chandra di Rumah Sakit Jiwa Prof Muhammad Ildrem Pemprov Sumut Jalan Tali Air, Medan, Jumat (8/12/2017).
Berdasar Nota Keuangan Ranperda APBD Sumut Tahun Anggaran 2018, Pemprov Sumut hanya menyediakan anggaran senilai Rp 25 miliar buat Rumah Sakit Jiwa Muhammad Idrem.

Anggaran itu terdiri atas belanja pegawai senilai Rp 8,6 miliar, belanja barang dan jasa senilai Rp 10,6 miliar dan belanja modal Rp 5,6 miliar.
Total anggaran buat rumah sakit ini terpaut jauh bila dibandingkan dengan anggaran beberapa instansi bidang kesehatan di jajaran Pemprov Sumut lainnya. Sebut saja angggaran Rumah Sakit Haji Medan senilai Rp 105 miliar.
Bahkan, total anggaran yang disediakan buat Rumah Sakit Jiwa Muhammad Idrem terhitung lebih sedikit bila dibandingkan anggaran administrasi perkantoran pada Dinas Kesehatan Pemprov Sumut senilai Rp 26 miliar.
"Naik turunnya itu ya hanya bergantung dari DAK (Dana Alokasi Khusus). Kalau DAK-nya kecil, ya kecil. Tambahnya hanya dari situ. Kalau APBD rata-rata segitu saja," katanya.

Tahun lalu, kata dia, DAK yang disalurkan pemerintah pusat senilai Rp 1,2 miliar. Untuk tahun depan, kata Chandra, rumah sakit mengusulkan DAK senilai Rp 3 miliar. Dari DAK inilah rumah sakit memeroleh suntikan alat-alat medis.
"Tapi nanti belum tahu, diturunkan senilai itu atau tidak. Tergantung pemerintah pusat.
Meski anggaran terbatas, kata dia, Rumah Sakit Jiwa Muhammad Idrem saat ini tetap beroperasi secara normal. Kata dia, ada sekitar 450 unit tempat tidur untuk pasien rawat inap di rumah sakit tersebut.
Sedangkan untuk tenaga medis, rumah sakit memiliki tujuh orang dokter.
"Tapi kita juga ada kerjasama dengan mahasiswa bidang studi kejiwaan USU," katanya.
Kondisi ini membuat pihak rumah sakit menyaring ketat pasien yang meminta rawat inap. Jumlah pasien yang akan ditampung harus disesuaikan dengan kapasitas rumah sakit.
"Ya harapannya ada penambahan anggaran. Kita ini satu-satunya rumah sakit pemerintah yang konsen pada gangguan jiwa," pungkasnya.


(Sumber:Tribun/Tim)
Next article Next Post
Previous article Previous Post