Jumat, 19 Januari 2018

Kebutuhan Jagung Secara Nasional Belum Tercukupi. Ini Faktanya....

Doloksanggul (Sinartapanuli.com )-Ternyata kebutuhan jagung secara nasional belum tercukupi. Secara nasional kebutuhan jagung 9 juta ton/tahun sedangkan untuk tingkat Sumut dibutuhkan 1,2 juta ton/tahun. Sehingga program penanaman jagung di Sumut khususnya di Humbang Hasundutan sangat potensial untuk pengembangannya.


Jagung adalah bahan baku utama pakan ternak dengan komposisi sekitar 50% dari total komposisi pakan. Berapa besar pakan ternak yang dibutuhkan, 50 % dari itu bahannya dari jagung. Perkembangan industri makan ternak dan industri lain yang berbahan baku jagung di Indonesia terus meningkat. Sehingga sangat perlu dukungan pemerintah dalam pengembangan jagung secara nasional. Indonesia termasuk negara yang cocok untuk budidaya jagung. Mendukung program ini, Pemkab Humbang Hasundutan salah satu kabupaten yang ikut berperan aktif dalam kebutuhan jagung.


Kebutuhan jagung ini terungkap saat Pemkab Humbang Hasundutan dengan PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) Medan mengadakan sosialisasi penerimaan jagung di Kantor Bupati Humbahas, Kamis (18/1). Hadir dalam pertemuan itu Kadis Pertanian Ir Junter Marbun, Kadis Ketahanan Pangan Sabar Sitanggang, Manager Pembelian Bahan Baku PT CPI Dedeth, para camat termasuk utusan kelompok tani.


Dalam sosialisasi itu, Dedeth memaparkan proses penanaman jagung mulai dari tanam sampai ke penampungan. Siapapun kata Dedeth, bisa memasukkan jagung ke PT CPI  yang penting kwalitas bagus. Di Sumut, saat ini ada 9 perusahaan penampung jagung belum termasuk didalamnya peternak mandiri seperti di Simalungun dan Binjai. Standar kualitas panen  jagung di PT CPI, kadar air maximal 30 %, biji jamur 5 %, biji mati/busuk 7 %, biji pecah 4 % dan tumpi/tongkol 2 %.  Kemudian tidak berkutu/tidak berbau asam dan minyak.


Kriteria jagung siap panen, klobot sudah berwarna coklat, rambut berwarna hitam dan kering. Populasi klobot kering 95%, kadar air 25-28%. Biji jagung bila ditekan dengan kuku tidak membekas. Kemudian umur jagung berkisar 120-135 hari setelah tanam. Kalau dipanen dibawah 120 hari, hasilnya bisa menjamur dan kurang bagus. Setelah panen, jagung disortir, jangan digabung tongkol   jagung yang bagus dengan yang busuk. Kalau digabung, jagung yang awalnya bagus bisa jadi ikut busuk. Bila curah hujan tinggi, jagung bisa digantung seperti jemur kain dan harus ada sirkulasi udara yang bagus.

Selain pakan ternak, jagung juga bermanfaat sebagai sumber karbohidrat, minyaknya diambil dan dibuat tepung termasuk bahan baku industri sebagai biomasa dan biodisel. Sosialisasi ini cukup menarik karena jagung dari setiap kecamatan di tes kadar airnya menggunakan alat canggih. Hasilnya semua jagung layak untuk diproduksi. Kadis Pertanian Junter Marbun mengatakan saat ini jagung salah satu komoditi unggulan di Humbang Hasundutan. Sehingga hati masyarakat sudah bergerak menanam jagung. (TIM/Protokol)
Next article Next Post
Previous article Previous Post