Jumat, 20 April 2018

Mengejutkan!! Pasar Narkoba di Indonesia Mencapai Rp 52 T

Semarang(Sinartapanuli.com) - Indonesia merupakan salah satu pasar terbesar peredaran narkoba di dunia. Dengan penduduk terbesar nomor 4 di dunia, Indonesia menjadi pangsa pasar yang sangat menggiurkan bagi para sindikat dan bandar narkoba internasional.

“Maka tak heran, berapapun besarnya jumlah narkoba yang masuk ke Indonesia. Pasti selalu habis, tak ada sisa. Tak ada barang yang diekspor kembali. Itu yang membuat kita prihatin. Maka, perang terhadap narkoba harus selalu gencar dilakukan,” tegas Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol Arman Depari, dalam talkshow pemberantasan narkoba yang digelar Forum Wartawan Pemprov dan DPRD Jateng (FWPJT) di studio mini TVRI Jateng Kantor Gubernur, Jumat (20/4).

Arman mengatakan, peredaran narkoba telah membawa dampak yang sangat buruk di bidang ekonomi, sosial dan kesehatan. Di bidang ekonomi, dalam setahun tak kurang Rp 72 triliun uang yang dikeluarkan terkait narkoba. Sebanyak Rp 52 triliun untuk belanja narkoba, sedangkan sisanya Rp 20 triliun untuk rehabilitasi/pengobatan terhadap para korban penyalahgunaan narkoba.
Angka itu menurutnya masih lebih “kecil” dibandingkan dengan jumlah untuk kawasan Asia Timur dan ASEAN yang mencapai 31 miliar dolar AS atau setara Rp 552 triliun.
“Di bidang sosial, narkoba telah membawa dampak buruk bagi kehidupan sosial di masyarakat. Banyak kasus pembunuhan dan perampokan sadis itu dilakukan para pelakunya akibat pengaruh narkoba. Banyak rumah tangga dan keluarga yang hancur gara-gara ada anggota keluarga terjerat narkoba, bangkrut jual sana-sini demi narkoba,” tegasnya.
Sedangkan di bidang kesehatan, narkoba telah membawa dampak sangat buruk bagi kesehatan penggunanya atau orag lain, seperti kasus menjangkitnya HIV/AIDS, penyakit hepatitis, dll yang mengakibatkan banyak penderitanya sakit seumur hidup dan berujung pada kematian.
Menurut Arman, saat ini terdapat 800 jenis narkoba beredar di dunia. Dari jumlah itu, sebanyak 70 jenis sudah beredar di Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 260 juta jiwa, di mana 40 persen merupakan anak muda merupakan pasar yang sangat potensial terjerat narkoba.
“Untuk itu, kita harus waspada, karena para bandar dan sindikat narkoba akan memakai berbagai cara untuk memasukkan barangnya ke sini karena Indonesia pasar yang sangat potensial dan besar bagi mereka,” tegasnya.
Selain menjual, modus para bandar dan sindikat juga memberi narkoba secara cuma-cuma kepada para pengedar yang direkrutnya. “Hal itu sebagai cara mereka agar tetap mempertahankan pasarnya di sini,” ungkapnya.
Dikatakan, para bandar dan sindikat narkoba tak pernah mati. “Yang ada mereka pindah ke negara lain, mencari pasar baru. Tercatat, ada dua sindikat yang tak aktif lagi di sini, yakni sindikat Iran dan Afrika Barat,” ujarnya.
Arman juga mengakui, masih banyaknya peredaran narkoba di Tanah Air yang dikendalikan dari dalam Lapas. “Bahkan ada napi narkoba yang menunggu hukuman mati memiliki sekretaris dan punya CCTV di dalam Lapas,” ujarnya.
Maka dari itu, mentalitas dan integritas aparat sipir di Lapas harus diperbaiki, agar tak mudah terjerat dalam jaringan sindikat peredaran narkoba. “BNN sudah mengusulkan agar napi pidana umum dan napi narkoba dipisahkan. Karena, mereka itu tak pernah mati, siapapun yang kenal dengan mereka akan mudah dijerat dan terpengaruh oleh uang yang sangat besar,” tegasnya.


Sumber: Suara Pembaruan
Next article Next Post
Previous article Previous Post